Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

27 April 2018

Menua Tanpa Cerita

Onggokan daging pelapis rupa
Ini!
Mulai menua dan tetap diam

Masa terus menggerogoti tiap mili degup jantung
Dan!
Aku belum juga temukan hurufnya

Tuhan memintaku untuk meminta
PadaNya!
Aku masih saja mendengkur

Tuhan sudah mencariku agar mencari
PadaNya!
Aku lena tertidur

Tuhan sudah tunjukkan untuk terus berusaha
PadaNya!
Aku malah menyungkur

Tulang-tulang ini akan tetap bisu
Bahkan ketika renta jadi panggilan raga




11 November 2014

(Ke)hidup(an)

Kadang ketika kita sendiri (menyendiri), saat itulah kita mampir ke hidup 
yang sesungguhnya selama ini kita abaikan rasa nikmatnya. 

Ketika sendiri(an) mata menyela-nyela deretan snack di kantin sambil bingung memilihnya, yang sesuai dengan bayangan selera, rupa, kondisi lambung dan suasana kantong (hekk.. ah ya..). Ketika sendirian menempati salah satu tempat duduk diantara empat tempat duduk yang kosong di bawah payung gazebo sambil menikmati makanan, lirik kiri (ke pepohonan keren juga ke bentangan rumput hijau) kanan (pohon-pohon berbunga kecil-kecil). Alhamdulillah. Inilah hidup. Indah.

Ketika mulut bungkam, kuping anti keributan, benar-benar menyendiri di tengah banyak orang. Membiarkan deretan kalimat-kalimat bermunculan di kepala. Imajinasi, ilusi, entah juga kalau halusinasi (hiiihh lah..), yang terpenting adalah kenyamanan, otak, hati mungkin juga jiwa. Berkali-kali yang tergumam dalam diam adalah syukur, alhamdulillah.

Menyendiri adalah ajang (hiyaahh) mencari pikiran diri sendiri. Mencari dimana ide-ide yang selama ini tertidur pulas dikalahkan oleh mulut yang sibuk bercakap, juga mata yang sibuk nontooonnn tipiii (tv). Menyendiri juga tempatnya kita berkunjung pada senyum-senyum kecil dan bahagia yang kita ciptakan sendiri (karena syukur), yang mungkin ketika kita sibuk berinteraksi (dengan siapapun dan apapun) jarang kita rasakan senyum yang senikmat ini. Terima kasih. Terima kasih kepada Allah SWT atas anugerah nafas hari ini.


Menyendiri dalam keindahan
Menyendiri dalam senyum
adalah
Ketika menyendiri menjadi tempat berintrospeksi, bernegosiasi dan bersyukur.

Rindu untuk mu


Rindu menjadi-(jadi)
Jadi ini dan itu
Jadi begini dan begitu

Kamu..
Wanitaku, kalaulah aku pria yang kepayang
Gadisku, andailah aku pria yang baik itu

Beruntunglah aku, karena aku muslimah
Maka rinduku tetap indah
Padamu... Wanita impian(ku)

Beruntunglah aku, karena aku wanita
Maka aku tak'kan terluka
Karena jodohmu telah kau temui

Tapi rinduku tetap menjadi
Hari ini, dimulai pagi ini, ketika bercermin. Tadi.
Padamu... Yang tulus berucap 'sayang', dulu..

Nanti.. Iya nanti. Esok. Kelak. Entah..
Aku akan adukan rinduku ini padamu
Muslimah indah..
Wanita(ku) yang anggun.

25 Juli 2014

Dunia (Lagi)

Tangis
Lagi-lagi dunia
Masih dunia
Terus saja dunia
Sampai tangismu mendunia

Semua kau hujat
Seakan kau rajanya jagat
Kapan kau sisakan tangis untuk akhirat?

Dunia
Dunia
Dunia
Lagi..

Cemas
Kapan?
Mana cemasmu untuk kubur?
Matamu sibuk mencemaskan masa depan duniamu
Kau masih muda?

Bingung?
Pada nasib duniamu esok hari.

Sudah.
Cukup.
Sepotong daging, sesuap nasi, tak akan tertelan nikmatnya
Kasih suamimu tak akan terurai sampai di jiwamu
Lembut senyuman istrimu tak akan tampak meski matamu terbuka
Ibumu, ayahmu, anakmu? Mereka bukan siapa-siapa
Tanpa izin_Nya.

Akhirat menanti cintamu
Titik air mata akan dosa
Syukur akan rahmat_Nya
Sabar akan ketetapan Allah
Karena kekekalan itu adalah akhirat

Dunia
Dunia
Dunia
Cukup.
Hentikan terlalumu.






11 April 2014

Timang-timang..



Timang-timang..
Wahai diri yang gejolaknya tak punya aturan
Rebahlah kedua sisi keningmu dipangkuan sajadah Tuhan
Pandangilah dengan lembut tempatmu seharusnya bersujud
Ada apa di sana?

Timang-timang..
Wahai diri yang haus akan kebebasan
Tengadahkanlah telapak tangan itu
Rasakanlah apa yang bisa kau genggam di keduanya
Ada apa di sana?

Kebebasan itu adalah tempatmu sekarat, dan beku.
Aturan itu juga tempatmu sakit, dan mati.
Tapi keduanya berbeda
Kau bisa memilih kerakusanmu, lalu mati
Kau bisa memilih sederhanamu, lalu mati
Dan keduanya berbeda

Timang-timang..
Wahai diri yang geloranya tak bertepi
Kau bebas memilih jalan kematianmu
Kita tetap akan sama-sama berada di dalam tanah

Timang-timang..
Wahai diri yang hatinya sempit, sakit
Biarkan apa yang kau lihat di sajadah itu, juga apa yang kau rasakan di telapakmu itu
Menjadi rahasiamu bersama Allah, bukan aku, dia, juga mereka

Timang-timang..
Wahai jiwa yang tersesat dalam gelap
Pulanglah!
Jalan Tuhan masih dibentangkan di tiap hela nafasmu

Pulanglah!
Pulanglah!
Sebelum kau mati.



Yogyakarta, 07 April 2014

09 April 2014

Wajar?

Gerimis? Hujan? Entahlah...
Riuh di sela-sela banyak tanda tanya
Tentang kita, kamu, aku, kita semua.

Kita yang asik dalam ayunan kata wajar
Membiarkan diri terhanyut dalam alam yang sesungguhnya tak wajar
Tanpa terasa, ayunan semakin kencang,
kita yang terlanjur asik dalam buai pun tak sadar kalau kita kurang ajar

Siapa yang berani menghajar?
Lidah nafsu hanya cukup sekali saja melantangkan suara “ini wajar!”
Semua hening, entah..., tertelan ketakutan pada yang mayoritas?
Mayoritas yang merasa wajar-wajar saja

Kita yang enteng menganggap kesalahan adalah biasa
Wajar.
Entahlah.., apa neraka itu sebuah kewajaran?
Karena wajar itu mayoritas

Dan titik hujanpun hening.
Ada kata hati yang tak lagi ingin diam tergolek manis dalam ayunan


Yogyakarta, 01 April 2014

03 Desember 2013

Dalam Kata, Kau adalah jiwa


Seperti syair tanpa ruh
Tanpamu, ia hanya seonggok kata tanpa makna

Mungkin ia lirik indah
Tapi aku takkan temukan iramanya

Tak peduli seberapa lama kau singgah
Jejakmu terlanjur kusimpan rapi

Tak penting kapan kau bertandang
Aromamu terlanjur jadi bagian di ruang hatiku

Jangan  menolak, menjadi alunan dalam sajakku
Agar mereka mengerti kisahku

Jangan membantah, menjadi rasa di kidungku
Karena setelah Tuhan, aku hanya percaya pada kertas

Jangan menolak, jangan membantah
Karena aku hanya punya masa lalumu

Karena tanpamu, ia hanya deretan kalimat hampa
Seperti lantunan tanpa nada


Kasyani ( 22:26 )
Yogyakarta, 03 Desember 2013

30 September 2013

Bingkisan Merah Muda


Ya Rabb yang agung, ampunilah segala dosaku terhadapnya
Pada dia yang kusebut sebagai kesucian.
Tapi aku sakit..
Ya.. aku sakit lagi..

Ku hirup dalam-dalam nyawa ini bersama sejuknya bumi pagi ini
Pejamkan mata dalam, berusaha meredakan panas dalam rongga dada
Entah dimana panas itu, membakar, sakit
Lagi.. dan lagi..
Aku merasakannya lagi kali ini

Aku malu padamu tentang pagi yang cerah kali ini
Karena ada bagian diri ini yang masih saja menyeringai perih
Lagi..dan kali ini..lagi!
Bukankah sudah kutegaskan dalam isi kepalaku ini
Bahwa merah muda ini tak lagi ada
Ampuni aku Tuhan atas sakit ini

Aku hanya tak ingin menunggu ketiadaan
Ya..yang menurutku tak lebih hanya ketiadaan
Aku hanya tak cukup tangguh untuk membuatnya selalu tersenyum
Bukankah aku tak cukup menyayanginya?

Ya..memalukan jika aku nyatakan merah muda dari mulutku
Tidak.. Mungkin hanya abu-abu yang akupun tak tahu
Tapi kenapa aku sakit?
Ampuni aku padanya yang anggun dalam kesucian, ya Rabb yang Maha
Maafkan aku karena aku masih saja merasakan luka ini

Padamu yang indah dalam suci, maaf atas sakitku ini..,
Aku mohonkan keindahan senyum selalu sertai harimu dalam berkah
Meski itu bukan penghapusan dosa padamu atas sakit ini
Aku hanya sungguh menginginkanmu dalam rengkuh kemuliaan kasihNya
Ya.. Bukan karena sakit ini, tapi karena kau pantas mendapatkannya.

Padamu yang jejak langkahnya melekat dalam kilau pasir putih
Ambillah seluruhnya  dalam genggamanmu, takdir ini
Jangan sisakan untukku meski itu sisa-sisanya
Aku tak lagi melihat diri ini sebagai kepantasan tuk menerimanya
Kesucian itu layak mendapatkan hadiah indahnya
Bingkisan merah mudamu.



Kasyani  (07:50 WIB)
Yogyakarta, 30 September 2013

08 September 2013

Romansa Emak Nge-Bully Babeh dengan Jurus Gombal Beraura Kangen


Emak:
"Mas, lagi ngapain? Kerjaannya masih banyak ya?"

Babeh:
"Gak kok istrikuu, ini lagi mau istirahat sperti biasa mau makan bekal dari rumah, buatan istrikuu tercinta" *(Yuhuu.. :-) )*

Emak:
"Oww.. *(Nada datar plus alus kayak jalan aspal tol. Haa)"*

Babeh:
"Ada apa?" *(Singkat padat dan jelas tanpa basa basi, soalnya takut bekal dari rumah keburu basi.)*

Emak:
"Mau ngegombalin Mas. Haha... Boleh?"  *(Jujur abiss. Cuma ketawanya yang gak jujur, di SMS "haha.." padahal senyam senyum nyengir-nyengir.. Xixixixi)*

Babeh:
“Boleh.. Hehe.. Baru belajar dari mana nih mau gombal-gombalin?” *(Ada aura pengejekan nih kayaknya di dalamnya. :-)  )*

Emak:
“Gara-gara bosen, akhirnya buka twitter, trus ada kayak iseng-iseng lomba nulis kata-kata pendek. Naaa ada nih yang buat Mas. Haha” *(Ketauan banget yak gak ada kerjaan sampe bosen. Haaa.. Beighh..jangan salah duluu, emak amat sangat rajin, kerjaan udah beres semua pkoknyaa. Di jamin. Hehee)*

Babeh:
“Wahaha.. apa tu kata-katanya?” *(mengandung bau-bau penasaran, tapi juga ada unsur ngejeknya kayaknya lagi lagi.. Hihihi)*

Emak:
"Aku masih di sini. Mengekor rindu yang terus ku tangguhkan. Pada mu yang ku impikan sebagai imam seluruh sisa nafasku."
*krekkrek krekkrek krekkrek...-delivered- (aksi emak nge-bully babeh waktu babeh lagi istirahat kerja dengan kata-kata romantisnya akhirnya terkirim)*

Babeh:
"Hehe.. Mau ya jadi ekor Mas? Ekor kan buntut? *(babeh ngelawan bully emak dengan kata-kata acuhnya atau emang gak baca ulang tu pesan gak ngerti juga. Hiii)*
"Atw mau jadi rusuk Mas aja? Mas lindungi dan tiap malam selalu dalam pelukan Mas. Gimana tu? Hehe.." *(Lanjutan kalimat babeh yang kayaknya mulai nyambung aura romansa nya. Ha)*

Emak:
“Aaaa…kan bukan mau jadi ekor ituu, tapi kan itu kata kerja. Uww.. *(Kesel..sambil usaha ngejelasin detail ala Emak. Ha..)*
“Ya maunya jadi tulang rusuknya laa..Hehehe” *(Nyengir-nyengir aduhai gituu. hahaa)*

Babeh:
“Hmm.. Asek..ahaha.. “ *(Ketawa seneng karna di gombalin istri? Atw ketawa ngejek lagi yak? Hikz..)*
“Buat sendiri dong biar seru.. Masa kata-kata dari orang? Nah loo dapet tantangan..” *(Fiuuuhh..aslii yang ni bener-bener bukan aura atau bau-baunya lagi yang ngejek, tapi 100% ngejek asli.) *

Emak:
“Loh??” *(Sepertinya kurang atu’ lagi deh tu tanda tanya’kesel’nya.Hiksz..)*
“Mas nii payahh.. Itu kann aku sendiri yang buaaattt.. Ukh.. Payahhhlahh..udah susah-susah menggombali pake ‘kangen’ juga, ee malah dibilang copy paste. Uhf” *(Yaahh..merengut masih ala Emak tuh.. haa. O..ow..ternyata ini modus Emak karena ada unsur-unsur kangen too. Haahaa aje gilee..udah pasang nada cemberut masih nyelonong juga jujur kalo kangen sama Babeh ternyata. Xixixii)*
 “ Payahh.. :-(  “ *(Krekkkrekk..krekkrekk..krekkrekk.. Emak bertubi-tubi ngirim pesan kesalnya sebelum ada balesan dari Babeh.)*
“ Menyebalkan.. :-(   *(lagi deh tuu.. ihirr)*

Babeh:
“Oww.. tu kata-kata istriku ini sendiri ya? Yang Cintaku buat trus masukin ke tempat lomba-lomba kata-kata pendek tadi ya? Kirain Sayangku baca-baca punya orang.. Wih bias-bisanya istriku nii gombal..abisnya gaya bahasanya gitu lo.. hehe..kayak orang biasa ngegombal aja..makanya Mas jadi ngomong gitu..hee *(Salah tingkah nii karna udah ngefitnah dan mencela Emak. Haha.. Jadinya usahaa deehh ngegombalin balik tuu..Haa)*

Emak:
“MERAJUK”  *(Pesan emak pake huruf gede semua.)*
“TITIK” *(Wahh mempertegas keteguhan hatinya buat merengut neh kayaknya. Hiks.. Rada cari perhatian ekstra tuu padahal yaa? Ngarep dirayu tuu. Haha)*

Babeh:
“Yaahh..jangan merajuk la.. Ntar kalo istriku merajuk siapa coba yang ntar buatin Mas teh?”
*(Ihirrr..ihirr..aksi dipertajam nih kayaknya, takut marah tuu Emak gara-gara dilecehkan tingkat kemahiran ‘bahasa’ gombalisme nya.. Haha)*

Emak:
“Adek gak mau buatin teh.. Kan Adek maunya jadi rusuk, bukan tangan. Wee’... *(Wahh cairn eh kayaknya pertahanan yang dipertegas luluh ne, karna ‘kangen’ tuu. Ihirr)*
“Adek laa yang dibuatin harusnya, kan rusuk dilindungi. Asiiikk..” *(Jiaahh kembang udah pada mekar ne kayaknya aura auranya. Hihi )*

Babeh:
“Jadi mau ngegombal niih setiap saat?Haha.. *(Krikk..krikk..krikk.. Kayak iklan di TV dehh)*
“Mau ya dibuatin teh?” Tapi Sayang yang ngegoreng ubi yaa Sayang.. Ahahaa.. Pengen ubi goreng..” *(Antara aura peng_gombal_an dan aura bingung mau ngerayu apa lagi.Hiks)*

Emak:
“Eee..rusuk gak boleh goreng-goreng ubi jugaa. Wee’..” *(Bener juga kan yak? Haa emang jago deh Emak ngeyelnya. Hee baguuss.)*
“Ya dunk..biar berbunga-bunga teruss.Hahaha..’sindrom anak ABG jatuh cinta’. Wkwkwk” *(Krikk…krookk..krikk..krokk.. Nyimpen tanda-tanda malu-malu meong tuu. He.. Emang ada gitu sindrom itu?? Wahh kecanduan gombal neh kayaknya Emak neh. Hahai )*

Babeh:
“Wah kalo gitu tulang apa dong yang bisa masakin ubi goreng? Tulang tangan aja mau gak Cinta? Yah..mau yah mau laa..” *(Bingung tuu bingung mau nyuruh Emak jadi Tulang apaan.Haha.. Usaha jurus rayuan kelas teri nya tuu dimunculin pula. Hiiikz)*

Emak:
“Maapp yaa tidak bisa dirubah, udah terlanjur deal jadi tulang rusuk.. Xixiixi.. Asiikk.. ” 
*(Aroma kemenangan udah kecium neh.. Ihirr)*

Babeh:
“Tapi rusuk kan dekat sama lengan Manisku? Mau la yaa..deketan juga tuu.. *(Ihiirr usahaa..masih tuu tahap kelas teri nya di replay.. Kayaknya pengen sambal teri deh Babeh. Loh?? Hee kali ajaa.. Haa)*

Emak:
“O..oo tidaakkk bissaaa” *(kekeuh berupaya menyambut kemenangan. Cihuii )*

Babeh:
‘Jadi bisanya apa la?” *(Abiss jurusnya kayaknya nii.. Hiihii pasrah bin nyerah)*

Emak:
“Bisanya meresapi perlindungan, terus sama bisanya merasakan dipeluk. Hahai.. Enak kan kerjaannya? Huhuii” *(Menangg nii 99,999%.. Hiii)*

Babeh:
“Huahh..” *(Kaget aluuss, sambil ngetawain Emak padahal tuu abisnya kalo bisanya cuma gitu trus siapa lagi coba yang masakin bekal Babeh tadi..nah yang beresin plus bersih-bersih rumah tadi siapa? Hahaa..berasa kayak orang gedongan aja gituu yang pembantunya selusin? Atu’ aja kagak ada. Hahaha.. Emak..Emak.. )*
“Gak apa-apa deh kalo gitu. Mas ngerjain sendiri aja..yang penting bisa ngebahagiain istrikuu gak apa-apa la.. Hehe” *(Dorr.. Jiahhh jurus gombal kelas kakap bin bo’ong banget akhirnya dikeluarin juga. Hihii..demi nyenengin hati Emak)*

Emak:
“Asiikk.. Horee.. Berhasil..berhasil..” *(Wahh efek kangen masih ngebuat Emak ngerayain kemenangan berargumen dalam keadaan tidak sadar sepertinya. Hihihii.. 100% menang kali ini. Kemenangan ala Emak. Haa )*

Babeh:
“ Ya udah dulu ya istriku sayang.. Sampe jumpa ntar di rumah ya. Hee.. Love you..”
*(O..oww.. ternyata gombal-an terakhir tadi karena buru-buru juga mau kerja lagi kayaknya, makanya bikin seneng Emak aja dulu.. hihi)*

Emak:
“Ya udah.. Okee.. Lup yuu juga Mas. Hehe” *(Aksi nyengir kemenangan masih berlanjut kayaknya tu.)*

THE END *(Untuk sementara yak.. Hehee.. )*

Warning!!! Ini cuma fiktif yaa, bukan Emak dan Babeh penulis. Just for fun, iseng-iseng buang bosen. Hee.. Peace..!


Kasyani
Yogyakarta, 08 September 2013