Monday, 5 December 2011

Selamat datang Masa Depan ku

Melambai tangan menarik asa..
Dengan gemuruh semangat yang tak tergapai rupa nya
Melambai.. dekat..dan semakin dekat..
Ulurkan tangan dengan kedua telapak yang terbuka..

Dan aku?..
Masih dengan wajah tanpa keramahan
Mencari-cari arti sedapat akal pikir ku berputar
Dengan mata yang tak juga berkedip memandang
Dengan sekuat pancaran sayu ini ku melihatnya
Aku msih dalam galau hatiku

Telapak tangan itu begitu dekat..dan masih juga terbuka lebar
Keikhlasan itu.. Dan semangat itu..
Sementara aku masih sibuk memahami kemana hati dan pikiranku akan membawaku
Tapi sungguh aku enggan berpaling..

Aku hanya terus mencoba menyatu dengan hatiku..
Memahami akal ku..
Aku hanya terus menyapa pikiran ini..
Wahai muslimah yang tertegun di masa ini, lihatlah asamu membawamu dalam samar pkiranmu sendiri..
Ayolah muslimah yang terdiam dalam risau..
Sibak samarnya harimu, dengan karunia Tuhan yang tertanam kokoh didirimu
Akal dan hatimu..

Aku mencobanya.. mencobanya..
Bersama hati dan akalku..
Memandang teduh tangan itu..
Masih tegar kokoh tawarkan semangatnya..

Aku ingin sekali menggapainya..
Menggenggam erat dengan rasa puas yang mengalir di seluruh bagian tubuhku, asaku, hatiku..
Dan aku mencoba menajamkan pandanganku..
Menguatkan binar semangat dimataku..
Meluruhkan semua kemayaan di pikiranku, di hatiku..

Dan aku??
Dengan senyuman ini..
Dan tawaran ketangguhannya yang telah kualirkan di diriku
Aku siap mengulurkan tangan kananku dengan telapak yang terbuka
Aku ingin menjabat telapak tangan kanan itu...menggenggamnya erat..
Dan aku yakin telapak tangan kirinya akan menyapa punggung tangan ini dengan sayangnya..

Ya.. keyakinan itu..
Aku telah menanamkannya disini..dihati dan pikiranku..
Aku yakin bisa menggapainya..kedua tangan dengan telapak yang terbuka itu..

Dia adalah Masa depanku...

Tuesday, 29 November 2011

Guru Idaman

Aku seorang murid kelas 3 SD di sekolah yang terletak di suatu desa yang kurasa itu adalah daerah transmigrasi. Sederetan rumah-rumah penduduk yang terbuat dari 'kayu' ber-cat putih. Seragam, dan aku rasa hampir semuanya bentuknya sama berpola seperti rumah panggung, namun dengan ketinggian yang beragam dan sepertinya tidak lebih dari 30cm atau 50cm, jadi menghasilkan kolong-kolong sempit dibawah rumah. Heimm seperti seorang pengamat kecil yang masih amatiran ku rasa aku sekarang, menceritakan keadaan desa ini tempat sekolahku berada.

Sebenarnya, aku berpikir bahwa aku cukup pintar untuk ukuran otakku yang sebesar ini. Pas/cukup. Tidak terlalu memubazirkan fungsi dari volume otakku. Buktinya aku bisa berpikir untuk menangis jika teman-teman usilku mulai berulah. Hihihihi (Cukup pintar untuk meluapkan kekesalan. He)

Aku memang tak mengerti dengan keadaan sesungguhnya yang dipirkan oleh orang-orang dewasa yang kerap aku amati. Dan kadang hasilnya adalah heran. Seperti hari ini... Suatu fenomena yang kuterima lewat mataku hari ini membuat aku tak henti berpikir, namun hasil pikiranku adalah tetap saja sebuah kebingungan belaka. 

Sebuah awal tahun ajaran baru menghampiri dengan suasana yang aku rasa biasa saja. Tidak ada yang berubah. Seperti halnya pakaianku dan semua atribut sekolahku, tidak ada yang berubah. Aku hanya sedikit kurang beruntung saja kurasa, sehingga tahun ajaran baru bukanlah berarti atribut sekolah baru untukku. Tapi aku tetap rapi dan bersih meski tanpa "setrikaan". Dan untuk hal itu aku salut pada ibuku. Keterbatasan alat bukanlah hal penghalang untuk jadi rapi dan bersih. Meski jika dibandingkan teman perempuanku yang rapi dengan pakian khas "setrikaan" itu aku memang kalah rapi. Heimm tapi tak apalah, toh teman-teman seusiaku bahkan diatasku malah banyak yang berpenampilan 'kucel' (sebutanku untuk yang tidak rapi. he), dengan tanda khasnya adalah noda-noda hitam di baju putih mereka itu. Banyak lalat yang numpang BAB disana soalnya. Hehehhe

Ah bukan itu sebenarnya keadaan terpenting. Ada hal yang benar-benar mempengaruhi jalan otakku hari ini. Aku jadi bingung otakku mau ngajak aku kearah mana dengan pemandangan hari ini. Hari ini adalah bulan keempat aku menduduki jabatan sebagai siswa SD kelas 3. Aku masih asyik bermain bersama temanku mengisi waktu sebelum Lonceng (bel) pertama berbunyi. Bola kasti dengan 5 buah batu-batu kecil atau dengan 5 buah cangkang/kulit kerang, dan bola itupun milik temanku. Ketika tiba giliran temanku yang memainkan bola itu, aku hanya asyik melihatnya (dengan harapan permainannya cepat mati. Hehe) sambil sesekali menikmati pemandangan sekolahku tercinta ini yang segar dipagi hari. Dengan halaman yang luas yang biasanya digunakan untuk upacara bendera hari senin, atau senam pagi dihari lain atau juga arena bermain Kasti. Segarnya pagi ini dengan oksigen yang dihasilkan kurang lebih 8 pohon sawit yang sengaja ditanam rapi juga beberapa pohon bunga Kertas (Bougenvile) yang cukup besar dengan bunga berwarna merah muda yang lebat. Tapi itu biasa... 

Pemandangan yang tak biasa tiba-tiba terlihat. Bukan makhluk halus sii.. he.. Seorang guru ku di kelas 1 dulu, seorang laki-laki yang sepertinya umurnya sedikit lebih tua dari ayahku yang sekarang berusia 26 tahun (Ayahku kan menikah muda.Hihihihi). Beliau juga terkenal seantero sekolahku sebagai pemegang predikat guru pemarah (gemeretak giginya terlihat menyeramkan dibalik pipinya) dengan otot wajah yang sepertinya berlomba untuk keluar dari kulit wajahnya, terutama dahinya. Tapi sebagai pengajar dan bukan penghajar, beliau tetap meluapkan kemarahan beliau lewat bentakan saja atau jeweran di telinga. Beliau bukan pelaku KDRS (kekerasan dalam ruang sekolahan). Saat ini yang terlihat olehku justru bukanlah kemarahan beliau, tapi kasih sayang beliau terhadap seorang murid laki-laki kelas satu. Beliau datang dari arah jalan gerbang sekolahku yang sedikit mendaki menuju terus ke gerbang sekolah ini. Menggendong murid itu tapi di tengkuknya (memondong kali ya..) dengan selingan gurauan-gurauan kecil. Terus...dan terus menuju kearah halaman sekolah, dan kini anak kelas 1 itu sudah dipindahkannya dipunggungnya sambil terus bergurau kecil. Melangkah hingga teras ruang kelas 1, dan mataku masih memandangnya dari depan teras ruang kelasku.

Aku memang bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Tapi bukan seperti dia. Bukan dia guru idamanku yang selama ini aku bayangkan sebagai diriku kelak setelah dewasa. Bukan karena dia suka melantunkan gelegar amarahnya diruang kelasku dulu ketika diantara kami ada yang melakukan kesalahan. Bukan karena bayangan wajah seramnya dengan otot dahi yang serasa ingin loncat dari dalam kulitnya. Bukan itu.. sama sekali bukan. Sebab tak selamanya dia begitu, dia mengajarkan aku menulis, berhitung, membaca dan bukan semata-mata amarah yang dia isikan di jam pelajaranku dulu. Amarahnya itu hanya sebagian kecil mungkin dari waktu di jam pelajaran itu, meski begitu membekas disetiap memori kami. Tapi sama sekali bukan itu yang membuat aku saat ini seolah membencinya. Tapi karena perilakunya tadi yang kulihat pada murid kelas 1 itu. 

Aku memang tak mengerti tentang pikiran-pikiran orang dewasa itu, seperti halnya beliau. Mengapa harus berperilaku seperti itu? Dan aku ini kenapa?? Aku hanya anak kelas 3 SD yang tak mengerti apa-apa tentang pemikiran beliau. Tapi kenapa aku tak suka dengan perilaku beliau tadi. Apa aku iri?? Iri?? Tapi jika aku iri kepada anak kelas 1 itu kenapa aku sama sekali tidak ingin menjadi guru seperti beliau. Bukan Beliau.
Apa hanya aku yang berpikiran seperti ini? Bagaimana dengan teman-teman sekelasnya yang sama-sama di ajar oleh beliau? Kenapa cuma dia yang diperlakukan istimewa? Apa karena dia pintar?? Kenapa? Kenapa beliau begitu tega melemahkan mental murid lainnya. Kenapa tidak bijak dan adil saja. Agar semua mendapat perhatian dan kasih sayang beliau dengan bijak. Apa pembangun negeri ini kelak hanya satu anak itu saja. Jangan lakukan hal itu disini.. dilingkungan sekolahku. Karena disini kau milik kami semua wahai guruku. Kami semua ingin mendapatkan kasih sayang yang sama. Sama sekali bukan ingin digendong, bukan itu. Sebab kurasa tingkahku sudah membuatku sering sekali merasakan gendongan ayah dan ibuku tercinta.

Kau begitu tidak adil dimataku. Dan kau sama sekali bukan guru idaman di cita-citaku yang kelak menjadi aku.

Saat ini aku hanya ingin kelak aku menjadi seorang yang adil. Karena aku yakin murid kelas 3 SD ini adalah pembangun negeri masa depan. Meski di takdirku nanti aku tak tahu apakah aku akan menjadi seorang guru, tapi yang pasti sekarang sudah tertanam kokoh "Cita-citaku menjadi guru milik semua muridku yang adil dan bijak".

Aku masih asyik dengan ocehan-ocehanku dalam hati yang penuh emosi. Seketika terhenyak mendengar bunyi lonceng khas itu berbunyi nyaring. Padahal permainan temanku tadi belum juga usai (belum mati), atau kalaupun dia curang juga aku pasti tak tahu soalnya konsentrasiku pada pemandangan yang menyebalkan tadi. Kami berdua segera masuk kelas. Dengan kedua tangan yang rapi, tangan kanan bertumpu pada tangan kiriku, aku sedikit tersenyum dalam hati menatap guru yang ada didepan kelas ku saat ini, "aku yang akan didepan kelas kelak membimbing murid-muridku dengan ilmu dan hatiku"..


Sunday, 18 September 2011

Dia.. Rayuan Indah

Rayuan yang indah..
Membayang disela-sela hening otakku yang kadang jenuh dengan sesaknya problematika alam fana.

Dia..

Sosok yang sering kali melambai-lambaikan senyuman yang tersimpan.
Menerbangkan aroma-aroma yang menyegarkan dinafasku.
Harumnya.. Masih sering tersapu dialiran udara yang kuhirup.

Dia..

Indahnya tak pernah bisa kulukis habis dibenakku.
Meski celah unik keelokan yang dimilikinya jelas tergambar diingatanku.
Beradu dengan bisikan merdu ditelinga kananku.

Dia..
Sosok idaman dijiwaku..

Dia..
Impian agung dihidupku..

Dia...
Aku sangat menginginkannya..

Menyatu dikehidupanku hingga liang maut mengulurkan waktunya.
Menjadi nyawa darahku yang mengaliri tubuhku.

Dia.. Rayuan indah yang aku ukirkan sebagai masa depanku..
Dia.. Aku sangat mencintainya..

Suatu saat nanti...
Aku ingin dia ada padaku..

Rayuan indah kibaran hijab yang agung
Rayuan indah jiwa yang agung

Bahasa Indonesiaku Sayang

Tulisan ini bermula dari otak isengku ketika mencoba menuliskan suatu kisah yang ingin aku bagi kepada pembaca yang budiman sebetulnya. (Yang pasti bukan dongeng atau romance.He..)

Tapi lucu sekali malah yang terjadi. Aku harus berulang kali mengedit tulisanku itu yang padahal baru beberapa paragraf. Ini semua karena "Bahasa Indonesia"ku yang aku cintai. Aku ingin menuangkan cerita ringan tapi inginnya dengan bahasa indonesia yang baik tapi tidak kaku. Waaaahh.. Alhasil, semuanya malah bener-bener jauh dari kata 'good'. Kalau masalah-masalah ilmiah malah tidak terlalu sulit sekali karena sudah ada tatanan peraturan dan sudah jelas suguhan karya-karya ilmiah memang bahasanya ya begitu itu, formal. Tapi terkadang bacaan-bacaan yang bersifat formal itupun juga masih dengan berulang kali pengeditan 'bahasa' sehingga menghasilkan bahasa yang formal tapi jelas maknanya atau tidak ambigu.

Nah..itu kan seputaran bacaan formal. Sekarang masalahnya adalah bacaan yang tidak formal atau fiksi malah sulit sekali menuangkannya dalam bahasa indonesia yang baik dan benar tapi tidak kaku. Wah yang tahu akar 'problem'ku lebih mendasar sepertinya 'orang-orang yang berkecimpung didalam mendalami bahasa indonesia'. Sepertinya intinya adalah kemampuan tulis bahasa indonesiaku yang belum 'good'.(Nah loh.. Ngaku deh.. he)

Permasalahan yang sering dihadapi adalah
  •  Ketika mengubah kata-kata tidak baku menjadi kata-kata yang baku justru menghasilkan kalimat yang  'kaku' untuk dibaca. Terkesan seperti cerita fiksi yang lebih mengarah ke 'dongeng'. Cuma bedanya kalau pada cerita dongeng diawali dengan 'pada zaman dahulu kala' dan sebagainya, nah tapi ini bukan diawali dengan kata itu. He.. Contohnya ketika "nggak" diganti dengan kata "tidak", atau "keinget diganti "teringat" dan sebagainya. Kata-kata baku itu justru terasa 'kaku' atau kalaupun tidak terkesan seperti dongeng maka akan seperti membaca karangan cerita pendek seorang siswa SD yang menulis tentang kisah liburannya di sebuah desa.
  • Meletakkan Subjek, Predikat, Objek, Keterangan yang salah tapi kelihatan indah sekali. Contohnya:  ..."otak isengku ketika mencoba menuliskan suatu kisah yang ingin aku bagi kepada pembaca yang budiman sebetulnya." Bukankah etisnya "sebetulnya" diletakkan di awal kalimat? Dan masih banyak lagi kata-kata yang salah penempatan tapi tampak indah untuk dikonsumsi pembaca.
  • Penghilangan subjek dalam bacaan yang dinilai bagus-bagus saja ketika dibaca. Contohnya: Semestinya tidak perlu banyak bicara kalau memang merasa benci dengan suasana ini. Nah loh.. yang dimaksud siapa?? Meskipun alur cerita awalnya sudah tahu si subjek yang dituju tetap saja harus ada subjek disetiap pembuatan kalimat baru. Tapi dengan tanpa subjek pun seringkali dianggap sah-sah saja oleh mata pembaca awam.
Nah sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah yang timbul ketika menulis. Namun, hal ini juga timbul ketika pembaca yang dituju adalah pembaca umum yang mayoritas tujuan utama bacaan fiksi ini adalah kaum muda. Misalnya topik pembicaraan dalam tulisan adalah topik kawula muda. Atau...Misalnya karena tujuan penulis cerita atau tulisan fiksi itu adalah memang kaum muda. 

Meskipun aku bukan orang yang khusus berkecimpung di dunia kebahasaan atau bukan juga orang yang berkonsentrasi penuh pada dunia tulisan fiksi. Tapi suatu keinginan besar ketika aku bisa menuangkan kisah-kisahku atau sekedar cerita fiksi kecil sekedar hiburan tapi dengan bahasa indonesiaku sayang yang baik dan benar tapi tidak terkesan 'kaku' untuk pembaca. Mudah-mudahan ada ilmu yang kuinginkan itu dari pembaca yang budiman, ada kiat atau setidaknya mungkin sedikit pembelajaran yang bermanfaat untuk memperbaiki kemampuan tulis bahasa indonesiaku ini yang lumayan "berantakan". hehe



Monday, 27 June 2011

Masih disini..

Masih disini..
Menjadi penyejuk jiwa yang tak pernah kau resapi
Hari ini ku pos kan 1 helai daun berwarna kuning kehijauan
Di sela-sela guratan otot-ototnya ku sisipkan kata yang mungkin sulit untuk kau olah dipikiranmu
Ad apa?? Kamu memang tak harus mengerti.

Aku masih disini..
Menjadi pelepas penatmu yang tak kau pahami
Apa kamu akan berfikir tentang kata yang kutaruh rapi di ujung sehelai daun itu?
Atau kau justru akan bimbang kenapa aku hanya memberimu sehelai daun kuning kehijauan?
Tenanglah..
Aku tetap akan seperti ini meski sedikit demi sedikit daun itu akan berubah menjadi kecoklatan.
Mengering.. atau juga membusuk..

Harusnya sekarang kau mengerti bukan? kenapa ku pilih kuning kehijauan
Meski kau juga harusnya tahu betapa agung coretan di helai daun itu buat ku
Aku tetap masih disini..
Karena aku yakin kau sudah jauh menyimpan kata itu dilubuk hatimu
Kau juga tak perlu berkata sepatah katapun untuk kata itu
Kau memang tak berhak..
Sebab itu aku hanya bisa meniupkan lewat sehelai daun kuning kehijauan.

Bukan kita..
Tapi Allah..

Aku yang akan tetap jadi bayu pelelap tidurmu..
Menjadi hari yang tak akan kau lewatkan..
Meski tanpa apa yang tak bisa kita mengerti sampai saat ini.

Friday, 21 January 2011

Dengan senyum

Assalamualaikum sobat semua..

This is my blog... Tepatnya sih new blog..

Saya berharap nantinya blog ini jadi wadah pembelajaran tentang apa saja.
Tentunya semoga selalu bisa ciptakan senyuman. Buat semua sobat dimana saja mudah-mudahan kita bisa berbagi informasi, cerita, dan senyum.

Harap masukan dari sobat semua.
Terimakasih, wassalamualaikum.